INDIKATOR SOSIAL PENCAPAIAN SPIRITUAL PUASA

pengetahuan spritual kaya kata-kata,
pencapaian spritual kaya pelaksanaan
(Gede Prama)

Sekilas bolehlah bangga dengan tradisi kedemawanan kita. Rentetan bencana alam belakangan ini menjadi momentum pembuktian culture of giving kita. Aneka media fundrising: mulai dari metode konvensional yakni kotak kardus di traffict light, mobilisasi dana oleh organisasi, kampus, sekolah atau dengan tansfer ke rekening tertentu sampai cara paling praktis melalui SMS. Belum lagi, milyaran rupiah yang digelontorkan korporasi dari dunia usaha. Apakah penggalangan itu telah mengindahkan PP No. 29 tahun 1980 tentang Pelaksanaan Pengumpulan Sumbangan atau tidak, tampaknya masyarakat tak memperkarakannya. Biarpun regulasi itu dimaksudkan untuk lebih menjamin akuntabilitas dan profesionalisme penggalangan dana. Bagi masyarakat, tak ada nyala indikator selain selain keikhlasan membantu. Prinsipnya, ketika tangan kanan memberi, tangan kiri tak perlu melirik. Ilustrasi tersebut, memperkuat hasil riset Public Interest and Advocacy Center tahun 2000, bahwa rate of giving masyarakat kita sangat tinggi. Dibandingkan Amerika, Jerman dan Perancis, masyarakat kita lebih gemar menyumbang, meski dengan porsi dan kualitas yang lebih kecil.
Tetapi. keluhuran kultur tersebut seakan tumpul ketika dihadapkan dengan masalah sosial. Angka kemiskinan yang disampaikan Presiden SBY dalam pidato 16 Agustus lalu, berpatok pada Survey Sosial Ekonomi Nasional-BPS adalah 35,1 juta. Dalam jebakan kemiskinan itu, berbagai macam kelompok dlua’fa berkubang, manusia yang terlantar, mereka yang hidup di jalanan, di area pembuangan sampah, orang-orang sakit dan lapar gizi yang tak menjangkau obat, anak-anak yang berkerja di usia sekolah, lansia yang tak lagi mendapat kapling dalam proteksi keluarga, anak dan perempuan teraniaya dan diperlakukan salah serta para difabel yang terlunta bahkan dalam keluarganya sendiri.
Mengapa tradisi amal dan ritual ibadah kita sedikit sekali maknanya dalam mengatasi masalah-masalah tersebut? Dalam momen Ramadlan ini, pertanyaan ini kian mengusik sebab siapapun sepakat bahwa spirit puasa adalah kontrol diri dari hasrat keegoan dan mengembangkan kualitas solidaritas serta keadilan sosial.

Pencapaian Kesejahteraan Sosial
Pesan puasa telah jelas, tetapi interpretasi kita meminjam istilah Dr. Moeslim Abdurrahman memahaminya sebagai laku spritual kepahalaan ketimbang mengungkap maknanya dalam prespektif sosial. Akibatnya, kita jalan di tempat, seolah ketakwaan pribadi sudah diraih, tapi gagap ketika berhadapan dengan problem sosial kemanusiaan.
Kata Gede Prama kita berputar-putar pada pengetahuan spiritual dan tidak mendekati pencapaian spritual. Tepat kiranya ungkapan : pengetahuan spritual kaya kata-kata, pencapaian spritual kaya pelaksanaan. Dalam hal inilah kita selalu menjadi bangsa yang miskin pelaksanaan.
Kembali pada problem sosial dan kemiskinan, maka tolok ukur keberhasilan puasa kita adalah bukan hanya mampu berlapar-lapar sesuai standar syariah selama satu bulan, mengeluarkan belanja sosial berupa zakat fitrah dan shalat Id. Melainkan sejauhmana prestasi sosial sebagai umat secara kolektif. Sudahkah kita mencapai level dimana kemampuan masyarakat cukup untuk mengakses layanan sosial, seberapa banyak anak yang dapat diselamatkan dari kelaparan gizi, sejauh mana perempuan yang terjerumus sebagai WTS keluar dari lingkungannya dan apakah para lanjut usia telah terjamin menjalani sisa hidupnya. Simpelnya, sejauh mana penyandang masalah sosial tersebut keluar dari jebakan kemiskinan dan bangsa ini mengupayakan struktur dan sistem yang membantu para mustadh’afin tersebut meraih kemandirian. Dengan singkat, dari prespektif sosial pencapaian kesejahteraan dan keadilan sosial adalah bagian utama output indikator pencapaian spiritual puasa.

Pendekatan Struktural
Sudah waktunya kita keluar dari lingkaran pemaknaan tradisional. Definisi pencapaian puasa ini perlu diubah secara frontal, sehingga ada transformasi dari kesadaran pribadi menjadi kesadaran sosial. Pencapaian yang tak berhenti pada titik individu dan mikro melainkan punya signifikansi secara makro pada realitas sosial.
Pencapaian tersebut baru efektif jika diawali dengan strategi struktural. Dimulai dari political will para penguasa, elit politik dan elit ekonomi dari pusat hingga daerah yang menjadi desicion maker pencapaian kesejahteraan masyarakat. Lebih khusus, mengupayakan kebijakan yang memihak golongan miskin, rentan dan lemah. Kesadaran spiritual mestinya dikristalkan sebagai kesadaran kolektif sehingga tumbuh komitmen pada pemihakan kaum lemah dan keadilan sosial yang diwujudkan dalam kebijakan program dan aksi sosial.
Tengoklah, porsi belanja sosial untuk pemihakan golongan lemah tidak memadai. Dengan belanja sosial dibawah 5 % dari GDP, kita tergolong negara yang lemah dalam pembangunan sosial. Justru negara-negara sekuler malah memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Input indicators berupa pengeluaran pemerintah untuk sektor pendidikan, kesehatan dan pendidikan dan jaminan sosial masih dianggap pengeluaran yang mahal. Padahal, mengikuti alur pemenang Nobel Amartya Senn, tak perlu menunggu perekonomian kita tumbuh terlebih dahulu, baru berinvestasi sosial. Bukan jamannya lagi, sembunyi dibalik apologi keterbatasan anggaran.
Bukankah salah satu spirit puasa menurut Dr. Komaruddin Hidayat dalam Tuhan Begitu Dekat, 2002, selain pembelajaran future oriented, adalah melatih kesanggupan investasi.
Menunda kenikmatan jasmani sesaat sebagai investasi kenikmatan yang lebih sejati. Untuk mencapainya kita harus pandai mengelola hidup dan kehidupan.
Perhatikan pesan Seyyed Hossein Nasr dalam The Heart of Islam, Mizan 2002 : inti ajaran kasih sayang adalah hemat pada diri sendiri tetapi pengasih pada orang di sekelilingnya yang membutuhkan. Menjadi bangsa “ hemat tapi pengasih” meniscayakan manajemen efektif dan efesien. Bagaimana penyelenggaraan pembangunan diselenggarakan dengan akuntabel, transparan dan jauh dari KKN. Ini mengharuskan setiap elemen bangsa berpuasa dari kepentingan egoisme, menahan nafsu hedonis, bahkan mengendalikan nafsu kejayaan pribadidan kelompok yang tak berpihak pada kepentingan kesejahteraan. Diperlukan moral kejujuran dan tanggung jawab sosial. Bukankah puasa mensyaratkan kejujuran, jika kita berbukapun tak ada yang tahu, kecuali Allah SWT.
Tentu peran ini tidak dipasrahkan begitu saja pada pundak para elit dan penguasa. Bukankah puasa diwajibkan pada setiap orang bahkan yang miskin sekalipun pun, asal mengimani. Maknanya, pencapaian spiritual sosial puasa memerlukan emansipasi semua orang. Pencapaian kita dalam shalat dan puasa, dalam beragama, juga diukur apakah orang-orang di lingkungan terdekat, dalam keluarga dan tetangga, benar-benar telah terjamin kebutuhan dasarnya. Pencapaian kita sebagai manusia pribadi diukur dari kalimat Nabi, khayr al naas anfa”uhum li al-naas, sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
Dari dimensi kultural ini, sepantasnya bangsa ini mengembangkan perilaku sosial yang menjadi etos puasa. Disamping empati sosial, harus menahan diri dari laku konsumtif, mengharamkan diri dari kekerasan, berpuasa dari laku hedonistik dan mengembangkan budaya memberi bukan meminta dan mengemis sesuai sabda Nabi : tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Untuk menjadi pemberi, dituntut kemandirian dan kesanggupan yang diperoleh jika kita mengamalkan etos kerja keras (working ethos). Etos yang oleh Al Quran terjelaskan dalam firman : Tuhan saja setiap saat dalam kesibukan “ ( QS 55 :29). Quraisy Shihab dalam Lentera Hati (1994) memberikan contoh kreasi Rasulullah seperti kemenangan Badr dan Penguasaan atas Makkah lahir pada bulan Ramadlan. Jadi, puasa bukanlah alasan berhenti berkreasi.
Jelas, keberhasilan ritual puasa tidak diindikasikan oleh prestasi individu saja tapi prestasi yang lebih tinggi yakni keadilan sosial dan realitas sosial yang menjunjung kemanusiaan. Jika tidak, jangan-jangan resultan puasa kita hanya lapar dan dahaga. Pesan Allah dalam Al-Maun : berdustalah mereka yang menikmati bersembahyang, namun melupakan nasib orang-orang yang termarjinalkan secara sosial. Semoga puasa kita akan menguatkan sinyal kesadaran dan komitmen kita untuk mewujudkan kreasi yang memihak pada mereka yang tak beruntung dan tertindas, karya yang berkiblat pada kesejahteraan dan keadilan sosial.

* Penulis bekerja di Seksi Pengentasan Kemiskinan
Kantor Kesejahteraan Sosial Kota Tegal

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: